KARL MAY
Carl Friedrich May lahir ditengah keluarga miskin di kota kecil Ernstthal, Saxony, Jerman Timur pada 25 februari 1842. Karl May kecil mengalami kebutaan sejak lahir akibat kekurangan vitamin A dan D. Namun disinilah awal imajinasinya akan kisah-kisah petualangan mulai ditumbuhkan oleh neneknya Johanne Christiane May. Neneknya terus mengisahkan dongeng-dongeng petualangan untuk menghibur Karl kecil. Di usia lima tahun, Karl akhirnya bisa melihat kembali setelah sukses mengoperasi matanya. Dalam perjalanan usianya kemudian, Karl mengalami rachitis yang mengakibatkan kakinya bengkok. Tingginya pun tidak berkembang selayaknya orang eropa lainnya, yaitu hanya sekitar 166 cm.
Selain keterbatasan fisiknya, Karl May pun pernah mengidap gangguan kejiwaan parah, Dissosiative Identity Disorder (DID) atau berkepribadian ganda, yang menyebabkan ia kerap menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Pernah suatu waktu, saat ia mengajar sebagai guru, Karl dituduh mencuri jam milik temannya. Meski Karl selalu menyangkal tuduhan ini, izin mengajarnya kemudian dicabut. Karena pencurian yang dilakukannya, Karl harus mendekam di penjara selama 7 tahun.. Masa-masa berada di dalam penjara inilah yang menjadi titik balik dalam hidup Karl May. Dia menghabiskan waktu dengan membaca banyak buku, terutama buku-buku geografi. Pihak penjara memberinya hak khusus untuk meminjam buku-buku dari perpustakaan.
Dengan imajinasinya yang kuat dan kegemarannya membaca buku, Karl mulai mencoba menulis buku. Buku pertamanya In Fernen Western terbit di tahun 1879 saat ia berumur 37 tahun. Namun buku itu tidak mendapat respon pasar. Meski kurang sukses sebagai penulis, karya Karl terus terbit, seperti cerita anak-anak & remaja yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia; Anak Pemburu Beruang, Harta dari Danau perak & Raja Minyak. Kesuksesan mulai menghampiri Karl saat penerbit Friedrich Ernst Fehsenfeld menerbitkan seri hardcover Kara Ben Nemsi, yang disusul kemudian trilogi Winnetou (1893). Karya-karya Karl hingga kini sudah terjual lebh dari 200 juta kopi diseluruh dunia dan diterjemahkan kedalam lebih 30 bahasa.
Karl May selalu melebur kedalam karakter karya-karyanya. Saya sendiri sewaktu SD, setiap membaca Winnetou selalu menganggap tokoh Old Shatterhand adalah Karl May asli.
JOHN GRISHAM
Awalnya John Grisham berpraktek sebagai pengacara setelah lulus dari Mississipi State University & Ole Miss Law School. Dari kesehariannya sebagai pengacara, penulis yang dijuluki the fastest selling novelist in American history ini mendapat ilham untuk menulis novel. Dari sidang-sidang yang diikutinya di pengadilan, ia mencicil menulis novelnya pertamanya Deathknell selama tiga tahun. Jhon Grisham kemudian mengganti judul novelnya itu menjadi A Time to Kill sebelum diterbitkan. Saat diluncurkan pertama kali, A Time to Kill kurang begitu mendapat sambutan. Setelah itu, Jhon Grisham menerbitkan novel keduanya, The Firm, dan novel ini cukup laris dipasar. Berkah dari larisnya The Firm adalah penjualan novel A Time to Kill tiba-tiba meledak luar biasa dipasar dan sempat menjadi national best seller. Sampai-sampai kemudian Warner Bross mengangkat novel setebal lebih dari 500 halaman itu ke layar lebar.
Kini penulis kelahiran Jonesboro, Arkansas pada tanggal 8 Februari 1955 itu telah meninggalkan praktek hukumnnya untuk menjadi penulis full time. Penulis yang juga pernah menjadi anggota Mississipi House of Representatives itu juga aktif dalam kegiatan-kegiatan amal gereja, dan tinggal bersama istri dan dua anaknya di kawasan pertaniannya di Mississipi dan perkebunannya di dekat Charloteesville,
ENID BLYTON
Enid Blyton (1897-1968) adalah pengarang cerita anak paling produktif . Selama hidupnya, penulis kelahiran Dulwich, London ini telah menghasilkan sekitar 700 buku. Terjemahan karya-karyanya itu tersebar kedalam 129 bahasa.
Ditopang oleh kegemarannya membaca sejak kecil, Enid Blyton telah menerbitkan puisi dan cerita pendeknya diumur 18 tahun. Saat ia menjadi guru, talentanya sebagai pengarang cerita anak mulai muncul. Buku pertamanya Child Whispers diterbitkan di tahun 1922.
Penulis ini meninggal diumurnya yang ke-81 tahun. Serial Lima Sekawan, Serial Pasukan Mau Tahu & Serial Cewek Badung adalah sekian dari karya-karyanyanya yang masih melekat dihati penggemarnya di Indonesia hingga kini.
CHARLES DICKENS
Charles Dickens lahir February 1812 di Portsea, Potmouth. Ia sempat meninggalkan sekolahnya di umur 12 tahun karena terpaksa bekerja disebuah gudang pengemasan demi menopang hidup keluarganya. Saat itu, Jhon Dickens ayahnya sempat dipenjara karena terlibat utang.
Diantara karya-karya terkenal penulis Inggris kenamaan ini adalah Oliver Twist (tahun 1837), Nicholas Nickleby (tahun 1838-1839). Terbitan mingguannya ,Master Humpreys Clock. The Old Curiosity Shop dan Barnaby Rudge (1841).American Notes (1842). A Christmas Carol (1843) dianggap sebagai seri paling populer pada dasawarsa 1840-an. Karyanya yang memaparkan secara satir kondisi social politik Inggris dizaman itu tercermin pada Martin Chuzzlewit tahun (1843-1844) dan Dumbey and Son 1846, David Coperfield-1850, Hard Times (1854), Bleak House (1852-1853), Little Dorrit (1855-1857).
Di tahun 1858 pasca perceraiannya dengan istrinya, Charles Dickens mulai berkeliling membacakan karya-karyanya. Antara tahun 1859 – 1861 ia menulis A Tale of Two Cities dan Great Expectations yang menjadi serial di majalah All the Year Round.
Ia menyelesaikan Novel Our Mutual Friends pd tahun 1864-1865 yang sekaligus merupakan karya terakhirnya. Setelah itu, Charles Dickens kembali melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk membacakan karya-karyanya pada musim dingin tahun 1867-1868. Charles Dickens meninggal pada tanggal 9 juni 1870 dirumahnya akibat stroke saat baru menyelesaikan separuh dari The Mysteri of Edwin Drood.
Makassar, Juli 2009
AGATHA CHRISTIE
Dunia menggelari Agatha Christie sebagai Queen of Crime, Ratu Penulis Cerita Kriminal. Dari tangannya tercipta karakter legendaries Hercule Poirot, seorang detektif belgia bertubuh kecil dengan kepala berbentuk telur, namun jenius dalam mengungkap setiap kejahatan. Satu lagi tokoh ciptaannya yang terkenal adalah Miss Marple. Sosok wanita biasa namun piawai & dingin dalam mengungkap setiap misteri kejahatan yang terjadi dilingkungannya. Kini kisah-kisah dalam novelnya telah banyak diangkat kedalam film.
The Mysterious Affair at Styles (Misteri di Styles) yang mengenalkan Hercule Poirot adalah buku pertama Agatha Christie. Ia mulai aktif menulis menjelang akhir perang Dunia I. Ciri khas dalam tulisannya adalah kemampuannya memberikan ending yang selalu diluar dugaan para pembaca.
Bersama suaminya Sir Max Mallowan yang arkeolog, ia terlibat juga dalam berbagai ekspedisi ke Timur Tengah. Agatha Christie mendapat penghargaan tertinggi Dame of the British Empire dari kerajaan Inggris pada tahun 1971. Lima tahun berselang kemudian ia meninggal, yaitu pada tanggal 12 Januari 1976.
Diantara buku yang pernah ditulis oleh Agatha Christie adalah : Postern of Fate (Gerbang Nasib), Curtain: Poirot`s Last Case (Tirai), Sleeping Murder (Pembunuhan Terpendam).
Makassar, Juli 2009
Resensi; The Fifth Column (Ernest Hemingway)
The Fifth Column (Angkatan Kelima); Perang = Mati sia-sia
…Pada jaman dulu mereka menulis betapa manis dan terhormat orang yang mati demi negaranya. Tapi dalam perang modern kematianmu tidak lagi manis dan terhormat. Seperti seekor anjing kau akan mati tanpa alasan yang jelas..(Notes for the Next War, Ernest Hemingway)
Melalui 3 baris kalimat notes-nya diatas, Ernest Hemingway mencoba mengidentifikasi makna perang di era modern sebagai latar 1 karya drama & 4 cerita pendek dalam bukunya ini. Bagi yang pernah menonton film bersetting perang semacam Brave Heart, Lord of The Ring, The Last Samurai, maka bersiaplah untuk kecewa saat membaca buku ini. Anda takkan menemukan pahlawan seorang pun didalamnya. Perang yang ‘seharusnya’ mengisahkan tokoh pejuang, pemberani, ditangan Hemingway malah diisi oleh para penakut, pengecut & pengkhianat sebagai tokohnya. Tapi disinilah kekuatan utamanya. Peraih Nobel Kesusateraan tahun 1954 ini membawa kita hadir ditengah kancah Perang Sipil Spanyol tahun 1937 untuk menyaksikan betapa perang hanya semata aktivitas saling membunuh antar manusia. Tak kurang, tak lebih.
Pada cerpen PENGADUAN (Hal.161-183), tokoh Aku (sudut pandang orang pertama subjektif) bersama seorang Waiter Bar terjebak dalam konflik bathin. Keduanya terpojok pada keharusan mengadukan seorang kawan lamanya (Luis Delgado) yang dalam perang tersebut berdiri dipihak lawan mereka. Tokoh Aku dan Waiter bar diawal cerita saling mengharap dan menekan satu sama lain untuk memikul tanggung jawab mengadukan Lusi Delgado pada markas polisi pemerintah. Mereka pada satu sisi terbebani dengan keberanian Luis Delgado yang hadir di Bar tersebut yang notabene berada dalam wilayah demarkasi mereka, dan disi lain mereka tidak mau dianggap berdosa karena tidak melaporkan keberadaan sang musuh tersebut kepada polisi.
Dengan cara bertutur yang kuat dan ritmis khas Hemingway kita juga disodori oleh deskripsi Bar Chicote’s sebagai latar tempat. Meminjam Bar tersebut, Hemingway menelanjangi sisi kemanusiaan kita yang cenderung tidak masuk diakal. Bagaimana para pengunjung bar yang baru saja membunuh dipagi hari atau mereka yang dijadwal untuk maju ke garis depan esoknya bisa terlibat dalam interaksi, pembicaraan dan diskusi dengan topik-topik ringan khas obrolan antar tetangga di waktu damai di Bar itu. Bagaimana seorang Luis Delgado yang berani mengambil resiko mati dengan pergi ke Bar tersebut yang berada dalam wilayah kekuasaan lawannya, hanya untuk memenuhi hasrat manusiawinya, yaitu bertemu dan bercengkerama dengan sahabat-sahabat lamanya. Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Hemingway. Perang bagaimanapun ganasnya tak mampu membunuh sisi-sisi kemanusiaan seseorang sebagai homo socius. Dan pada akhir cerita, tokoh Aku menelpon polisi yang akhirnya menangkap Lusi Delgado, Memintanya memberitahu Luis Delgado bahwa dialah (Aku), sahabat lamanya yang mengadukannya. Tokoh Aku ingin menegaskan bahwa dia –sebagai sahabat- masih punya sisi kemanusiaan yaitu Rasa Bertanggung jawab.
Di 3 Cerpen berikutnya; Kupu-kupu dan Tank, Malam Sebelum pertempuran, Di atas Punggung Bukit, Hemingway kembali menggunakan sudut pandang tokoh Aku dalam melukiskan konflik-konflik kecil para tokoh ceritanya sebagai media penyampaian pesan. Konflik kecil yang seolah tak ada artinya dihadapan perang besar dimasa itu justru diolah sebagai cermin besar dalam mendefinisikan makna sejati perang itu sendiri. Hemingway memaksa kita menggunakan pelupuk mata untuk melihat perang dalam perspektif semut dan bukan sebagai gajah.
Buku yang isinya ditulis tahun 1937 ini sebenarnya sangat cocok bagi para penulis pemula yang hendak belajar menulis cerita fiksi. Hemingway menuntun kita belajar teknik menggiring pembaca seolah berada nyata dalam setting waktu & tempat terjadinya peristiwa. Kalimat singkat, paragraf singkat, kalimat aktif & bahasa yang dahsyat, itulah empat rumus dasar Hemingway dalam menulis. Kita juga bisa meniru cara dia menyisipkan tema & pesan cerita secara tersirat. Hemingway tidak menaruh pesan secara kasar & amatir lewat dialog atau ending cerita sebagaimana kebiasaan penulis sekarang. Dia justru menyisipkannya secara halus dan hati-hati, tersebar merata pada semua paragraf. Dan pembaca akan terkejut dengan kecerdasannya sendiri, saat berhasil menemukan tema & pesan moral cerita begitu selesai membaca tanpa merasa digurui. Tak salah kalau Erza Pound menyebut Ernest Hemingway sebagai ‘Penulis prosa dengan gaya terbaik di dunia’.
Peresensi : Rusdianto
Makassar, Juli 2009.
Keterangan buku :
Penerbit Pedati, Agustus 2003 ( penerbitpedati@hotmail.com)
Diterjemahkan dari judul asli : The Fith Column & Four Stories of the Spanish Civil War
Simon and Schuster Inc. Rockefeller Center, New York, NY 10020
IDRUS
IDRUS, pengarang kelahiran Padang 21 September 1921. Cerita pendeknya berjudul Heiho pasca pendudukan Jepang menghentak dunia sastra tanah air.dianggap sebagai sejenis komedi hitam, tragikomik. Gaya menulis satir, ringkas, lugas, kadang kasar & jenaka, yang belum banyak dianut penulis lain kala itu.
Pada tahun 1948 oleh penerbit balai Pustaka, Jakarta, terbitlah karyanya yang sangat populer hingga sekarang. 13 kumpulan cerita Dari Ave Maria sampai Jalan Lain Ke Roma. Oleh HB.jassin, Idrus dianggap sebagai pelopor Angkatan ’45 dibidang Prosa (berdampingan dengan Chairil Anwar dibidang puisi), karena dianggap berhasil melakukan pembaruan bentuk tulisan.
Sebagai pengarang, Idrus tidak lepas dari pengaruh pengarang luar. Utamanya Anton Chekov. Idruslah yang memperkenalkan Chekov ke masyarakat Indonesia lewat terjemahannya. Salah satu yang mengagumi kualitas kepengarangan idrus adalah Pramudya Ananta Toer. Suatu kali Pram pernah berkata tentang penulis yang wafat diumur 58 tahun ini, yaitu ; “ ada dua pengarang kesukaan saya. Pertama, Jhon Steinbeck. Kedua, Idrus “
ARMIJN PANE
ARMIJN PANE sastrawan kelahiran Muara Sipongi, tapanuli Selatan 18 Agustus 1907. Roman BELENGGU yang diterbitkan Penerbit Dian Rakyat (milik Sutan Takdir Alisjahbana) paada 1940 menggegerkan jagat sastra Inonesia. Majalah Pujangga Baru dalam edisi Desember 1940 menurunkan berbagai komentar yang bernada mencaci dan meremukkan roman tersebut.
Roman itu berkisah tentang hidup Sumartini, Kartono, Dik Tati, & Siti Rohayah. Dengan bangun cerita yang cukup dramatis, filmis, pengarangnya mencoba memperlihatkan konflik dalam diri seorang manusia yang mencoba menemukan kenyataan dirinya dalam satu situasi hidup yang sangat berbeda; zaman yang sangat kontemporer. Pada dasarnya roman ini menyodorkan kita realitas manusia Indonesia sebenarnya yang dibelenggu oleh dirinya sendiri, bukan oleh kekuatan luar (penjajah, dunia barat).
Buku ini diterbitkan juga oleh penerbit dari Kota Petaling Jaya, Malaysia tahun 1965.